Minggu, 19 April 2009

CILOK RAMADHAN

CILOK RAMADHAN
Siang semakin terik ketika aku duduk di beranda rumah, jalanan yang sepi membuatku sedikit lebih nyaman untuk melepas lelah tempo pagi. Yang tampak cuma beberapa sepeda motor berjalan agak cepat karena panasnya sengatan matahari. Mungkin terik dan panas itu yang membuat jalanan agak lenggang, juga karena ini bulan ramadhan…

Dari kejauhan terdengar suara kentongan kecil yang tidak berirama tetapi temponya konstan. Tok..tok…tok… sebuah isyarat, kalo di terjemahkan tidak lebih adalah perkataan :“Belilah cilok ku” (bakso tusuk). Suara itu semakin jelas seiring munculnya lelaki paruh baya membawa sepeda beserta kotak dagangan yang berisi cilok diboncengkanya di belakang.

Wajahnya tak asing bagiku, bukan karena aku pernah mengenalnya tapi, karena wajah itu mirip teman sekelasku. Kentongan kecil itu merayu cukup banyak anak-anak tetangga, terlihat anak-anak itu sangat antusias seperti seorang penggemar Elvis Presley melihat sosok bintang pujaanya..Tapi serentak ibu-ibu mereka mencegah dengan sigap, karena sudah dapat penyuluhan kesehatan waktu di posyandu. “Itu tidak sehat, ada formalin, borak!!” Ibu-ibu itu berteriak pada anak nya, mengutip kata yang sering muncul di TV belakangan ini..”Bulan puasa ko’ jualan. Tidak mendidik! Kan menggoda anak-anak yang belajar puasa, Semoga Allah memberinya hidayah” perkataan yang ada halusnya dan ada salah satu katanya yang menyentak keluar dari mulut seorang ibu yang seluruh tubuhnya terbalut jilbab.

Lelaki paruh baya itu tetap melaju seakan tak mendengar celotehan mereka, wajahnya tetap sigap seperti tentara waktu apel, tak hiraukan desingan peluru diatas kepalanya. Apakah dia sudah mati rasa? Apakah dia tak menghiraukan cacian dan nasehat itu? Manusiakah dia?....Pertanyaan itu pasti muncul pada orang yang tak mengenal sosok itu.
Pada suatu sore dia kembali ke rumahnya menemui anak perempuan satu-satunya, wajahnya tersenyum lebar seakan seluruh daganganya laris diborong juragan. “berapa yang terjual, pak?” Tanya anaknya yang juga tersenyum ceria khas anak polos nan lugu. ”Alhamdulillah, laku lima biji, nak…” Dia menjawab tanpa mengurangi senyum kebahagiaanya, walaupun di kotak daganganya masih tersisi lima puluh biji tak terjual.

Kalau ada beras mereka bisa makan dua kali sehari, jika tidak ada mereka cukup makan seadanya. Kenyang tak harus makan, minum air yang banyak juga bisa kenyang…. Saat waktu sahur tiba, sang anak membangunkan ayahnya yang tertidur pulas, lesu wajahnya masih menandakan lelah mengayuh sepeda menjajakan cilok sepanjang hari.” Pak..sahur..Sudah saya siapkan ,pak..” dengan di temani redup lampu minyak mereka menyantap sahur dengan khidmat, beberapa biji cilok yang sudah tidak laku selama satu minggu. Itulah makanan pokok mereka, tak ada makanan buka puasa. Cilok yang sudah mengeras itu adaalah sahur mereka sekaligus untuk buka puasa. Kebiasaan buruk mereka yang dipaksa oleh kemiskinan, buka puasa sekaligus sahur!!.

Sinar mentari yang membungkus pagi, mengusir embun , seperti sorot lampu teater. Bertanda kita semua siap pentas dalam panggung besar ini. Sinarnya begitu hangat, jika kita merasakan kehangatanya sebentas saja, bersama menghirup udara pagi diiringi istrumen alam kicauan burung prenjak diantara batang pepohonan menyaut-nyaut. Keindahan pagi itu membuat Setiap orang lupa akan masalahnya dan si miskin lupa dengan kemiskinanya. Mungkin itu sebuah motivation training yang kontinyu, yang membuat Ayah paruh baya itu tetap mejajakan daganganya.

Pagi itu sang anak menyodorkan sepucuk surat panggilan dari sekolah perihal keterlambatan uang SPP anaknya. Wajahnya tidak berubah, tetap seperti seorang yang sedang mengikuti trainingnya Andre Wongso. Mungkin juga karena terlalu sering mendapat surat macam itu…….
Jalan demi jalan dia arungi seperti Vasco Da Gama mengarungi samudra, sudah tengah hari tak seorang pun ada yang membeli cilok nya…”Ya..Allah jikalau bulan ramadhan adalah bulan penuh berkah. Di manakah berkah itu..”
“Aku tak perlu puasa untuk menahan dahaga dan lapar, aku sudah merasakanya sepanjang hidupku…”

Dengan sepeda jengki buatan cina yang masih terlihat kokoh walau sudah ber umur, dia berbelok ke sebuah gerbang. Di atas gerbang itu tertulis tulisan yang sangat besar ”Aku datang untuk belajar”. Sambil menggenggam surat di tangan kiri yang dia keluarkan dari saku depan bajunya dia senderkan sepeda cilok itu. Dari kejauhan terliha anak perempuan dengan rambut terurai , Sang ayah paruh baya itu langsung mengenali sosok anaknya, dengan seragam putih kekuningan yang di beli tiga tahun lalu waktu ibunya masih ada, sepatu hitam legam tanpa kaus kaki, rok biru pudar, tidak lain adalah anaknya. Begitu ceria bermain dengan anak-anak yang lain. Sang anak melambai kepada bapaknya dengan senyum lebar seakan ingin menunjukan kepada dunia seolah-olah ayahnya adalah Neil Amstrong yang baru pulang dari bulan. Senyum bangga, ceria, lugu…..
Lelaki paruh baya itu masuk ke sebuah kantor yang serba bersih, rapi dan teratur. Berbeda sekali sekolah ini dengan sekolahnya tempo dulu. Dia menunjukan surat itu kepada seseorang dan lelaki paruh baya itu diantar ke sebuah ruang paling mewah yang pernah ia lihat langsung, selain ruang di kantor kecamatan saat dia membuat KTP. Di meja itu tertulis “Headmaster” di bawahnya ada nama yang penuh singkatan depan delakang, entah harus apa lelaki paruh banya itu menyapanya….

Lelaki yang duduk di belakang meja jati mengkilap itu mempersilahkan duduk serta menjabat tangan..”Pak, maaf saya kepala sekolah ini, anda saya panggil berkaitan dengan uang SPP putri bapak yang menunggak lima bulan” suaranya pelan lembut namun berwibawa, seperti sudah latihan semalam suntuk untuk membunyikan kalimat itu.
“Bapak perkerjaanya apa, maaf kalau boleh tahu?”.
“Saya bakul cilok,pak…”
“Kenapa bapak menunggak pembanyaran SPP?”
Air mata lelaki paruh banya itu menetes. Terik matahari, makian dan cacian ibu-ibu tak membuatnya gentar. Tapi, pertanyaan kepala sekolah siang itu terasa telah meruntuhkan jiwanya. Dia teringat sosok anaknya yang penuh ceria sedang bermain dengan teman-temanya, yang selalu membangunkanya, menyiapkan sahur, dan tak pernah mengeluhkan seragam satu-satunya walau puluhan kali sudah dijahit..
Dengan pelan dan terbata-bata lelaki paruh baya itu menjawab,
“Pak….apakah harus saya bayar uang SPP anak saya dengan cilok dangangan saya yang tidak laku selama satu minggu..??”

Istirahatku terusik , karena dari belakang namaku di panggil beberapa kali. Kami sedang mempersiapkan syukuran pak Haji yang akan naik haji lagi untuk ke lima kalinya….
“ya…bentar …………………………………………………………………………………………

Tidak ada komentar:

Posting Komentar