Senin, 16 Agustus 2010

The World is Changing


Sadar atau pun tidak kita tengah berpacu dengan zaman. Fenomena globalisasi, village world dan syber world tengah menyergap kita dan hanya orang yang biasa berkompetisilah yang bertahan di zaman yang tak menentu ini. Posisi masyarakat Indonesia yang sebagai pemakai teknologi seakan dipermaikan dengan kemajuan teknologi yang sulit dibendung, handpone, komputer, internet dan laptop menjadi tren masyarakat. Komunikasi super cepat melindas seluruh belahan dunia, temuan ilmiah hampir terjadi setiap hari.

Saat ini sebuah chip komputer dapat menjalankan 4 milyar operasi elektronik setiap detik, diperkirakan akhir millennium II 200 trilyun perdetik. Dengan hanya memencet tombol kita bias memindah informasi dari computer ke computer yang lain melalui jaringan internet. Satu lembar serat optic seukuran rambut dapat mentransmisikan buku setebal 29 jilid dalam waktu kurang dari satu detik. Melalui internet juga anda dapat mengakses milyaran data, jurnal ilmiah, perpustakaan raksasa, majalah, koran dan berbagai sumber lainya. Kita hidup di jaman yang bergerak dengan cepat, memberikan kita kecepatan untuk bergerak tetapi itu merampas waktu yang kita miliki. Jarak menjadi menyusut dan juga dibarengi dengan mengkerutnya dimensi waktu yang kita rasakan.

Apakah sekolah masih layak dijadikan sentral pengetahuan? Dengan membanjirnya arus informasi yang sangat cepat, melebihi kemampuan otak untuk menyerapanya membuat kita harus merubah cara kita menaggapi informasi. Hanya dengan mencari lewat search engine dalam waktu kurang dari 0,24 detik kita di hadapkan dengan ribuan informasi yang berkaitan dengan apa yang kita cari. Dengan segala kemudahan ini seakan menggelitik naluri kita.

Perkembangan teknologi yang terjadi setiap harinya memaksa dunia dan penghuninya untuk berubah dan merubah perilaku mereka. Penggunakan robot industri yang semakin meluas secara langung akan menggeser peran manisia sebagai penggerak industri. Sekitar 31% pekerja tekstil di Inggris telah menjadi mubazir dalam waktu 10 tahun terakhir ini. Ternyata, General Electric pun telah mengurangi jumlah karyawan dari 400.000 pada 1981 menjadi 230.000 pada 1993 (Rose:25). Di Negara kita pun sudah banyak pekerjaan yang lesu bahkan menghilang, seperti perusahaan Pos yang tergeser perananya oleh Telekomunikasi eloktronik. Jaringan internet yang mulai merambat sampai ke desa-desa dan bisa menjadi ancaman bagi surat kabar cetak. Masyarakan akan memilih internet sebagai sumber informasi yang murah dan tak terbatas. Tahun 90an banyak bioskop-bioskop gulung tikar karena maraknya Televisi dan VCD Player serta di perparah dengan VCD bajakan yang murah dan meluas sehingga orang enggan menonton di bioskop. Serangan hanphone ke masyarakan kita memaksa wartel-wartel untuk tutup karena sepi pelanggan dan mereka memilih untuk menggunakan handpone sebagai sarana komunikasi.

Dari berbagai profesi yang akan musnah dalam dekade ini, akan muncul juga profesi-profesi baru yang sesui dengan perkembangan teknologi. Warnet, konter pulsa, toko barang elektronik terutama computer dan laptop menjamur dari kota besar sampai pedesaan. Pertanyaanya adalah; siapkah sumberdaya manusia kita yang diolah di sekolah menagkap peluang tersebut? Mari kita tinjau aspek kehidupan lain. Indonesia yang sejak di pelajaran SD sudah mengaku dirinya sebagai Negara agraris dan maritim, saat ini belum menunjukan kemajuan yang signifikan walam bidang tersebut walaupun kemajuan teknologi sudah sedemikian pesatnya. Apa yang salah dengan sistem pendidikan kita?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar